Kristen Hijau

Jaringan Pemuda Kristen Hijau

Surat dari Copenhagen untuk Kristen Hijau

Leave a comment

Puji Tuhan gerakan Kristen Hijau yang masih kecil dan baru ini telah mendulang dukungan. Kami senang mendapat kiriman surat dari kawan Prathiwi, peneliti postdoctoral di Universitas Copenhagen. Beliau mengapresiasi aktivitas-aktivitas Jaringan Pemuda Kristen Hijau Jawa Timur yang disaksikannya lewat facebook dan tergerak untuk berkontribusi. O ya, kak Ami ini (panggilannya), juga tercatat sebagai anggota jemaat GKI Raya Hankam Jakarta. Berikut isi surat dari beliau.

11407035_10153403369919439_7391667247268402539_n

Surat untuk kawan-kawan muda Kristen Hijau

Sains, Teknologi dan Komunitas Peneliti, untuk Apa dan Siapa?

Perjuangan petani pegunungan Kendeng selama bertahun-tahun membuat saya terpecut untuk juga bergerak, seperti banyak yang lain, walaupun dalam kasus ini apa yang saya lakukan tidak juga mencapai seujung kuku besarnya dibandingkan tubuh pergerakan itu sendiri. Hal yang paling kuat mendorong kesadaran saya adalah kemandirian sosial ekonomi mereka. Bagi mereka, ini hal yang paling mendasar untuk dipunya oleh sebuah komunitas. Sementara banyak dari kita yang mempunyai ambisi untuk menempuh pendidikan setinggi mungkin, saya bertanya pada diri sendiri apakah hasilnya pada akhirnya nanti? Pada kesempatan ini saya ingin menulis tentang dua pokok perbincangan, tentang Komunitas Peneliti dan sumbangsihnya bagi kemajuan atau ’progress’, dan solidaritasnya dalam pergerakan sosial demokratik.

Kembali kepada perjuangan para petani yang bersahaja itu, kira-kira apakah yang mereka bayangkan sebagai kemajuan? Tidakkah mereka merindukan modernitas? Bukankah pabrik semen akan membukakan jalan agar negara kepulauan kita memiliki jalan raya yang mulus, jembatan yang kokoh serta dermaga-dermaga yang megah? Jelas bukan ini yang mereka rindukan, melainkan kelestarian bumi untuk merawat peradaban itu sendiri yang sejatinya adalah keberlanjutan hidup komunitas. Lalu bagaimana kita yang dididik secara moderen dan hidup dari perputaran uang pasar global, tidak hidup bersandarkan pada sistem ekonomi subsisten atau hanya dari sistem pasar komunal, melihat hal ini?

Jawaban paling mendasar bagi saya adalah, Republik ini secara konstitusional harus melindungi masyarakatnya. Justru ’kemajuan’ itulah, yang begitu cepat belingsatan jalannya itu, tetapi meninggalkan banyak penderitaan bagi komunitas adat dan kerusakan lingkungan yang parah, yang harus dikorbankan. Kita mau maju tetapi berjalan dengan tegap, anggun dan yakin bahwa kita semua bersama-sama seiring dalam perjalanannya (saya ingat ini sering diungkapkan oleh YB. Mangunwijaya).

Kasus Kendeng ini juga telah membuka kesadaran kita terhadap apa peran Jawa dan Nusantara bagi bangunan sosial-ekonomi yang lebih besar. Salah satu tulisan yang baik menjelaskan perkara semen ada di sini http://www.pressreader.com/indonesia/kompas/20170322/281822873619725. Keluar dari persoalan Kendeng untuk membicarakan dua pokok perbincangan di atas, saya ingin bicara secara umum berdasarkan kapasitas saya sebagai peneliti dalam tata kelola kota dan infrastruktur air.

Apakah esensi infrastruktur? Infrastruktur harus dilihat bukan sebagai hasil akhir, tetapi hanya sebagai medium untuk keberlangsungan aktivitas masyarakat. Sebagai contoh, masyarakat dan sumber daya alam serta hasil panen perlu bergerak ke tempat yang berbeda, maka persoalannya adalah bagaimana mobilitas harus diatur dan dengan moda transportasi apa. Sialnya, perdebatan menjawab persoalan ini sering direduksi menjadi: berapa jalan raya,  dermaga dan jembatan yang perlu dibangun dan prosedur teknis yang mengikutinya. Tunggu dulu, apakah kita perlu berkendaraan dengan mobil? Bagaimana dengan sepeda atau kereta api? Apakah kita butuh dermaga yang luar biasa megah? Bagaimana dengan sistem pelayaran lestari yang didukung oleh energi ramah lingkungan, kualitas dan kuantitas kapal yang proporsional menjawab kebutuhan serta frekuensi berlayar yang teratur? Contoh lain, kebutuhan domestik rumah tangga akan air di perkotaan meningkat luar biasa. Persoalannya kemudian adalah bagaimana menyediakan air bersih dan mengelola air kotornya dengan sistem yang baik tanpa menggangu sistem pertanian di pinggiran kota dan pedesaan, juga untuk menjaga kelestarian alam Nusantara yang luar biasa kaya akan plasma nuftah. Sialnya lagi, yang selama beberapa dekade dibicarakan dalam program pemerintahan adalah bagaimana memperluas jaringan perpipaan. Yang banyak terjadi saat ini kemudian adalah, jika pipa tidak hanya berisi angin, maka yang datang ke pintu-pintu rumah tangga adalah air yang kualitasnya sangat jauh dari kualitas air minum. Sementara itu banjir tidak terkendalikan dan air hujan terbuang percuma ke laut.

Dari beberapa contoh di atas, saya sejatinya ingin menyampaikan bahwa tidak ada lingkungan penelitian yang subur di Republik ini, untuk memperjuangkan sains dan teknologi untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Namun saya tetap optimis, karena masyarakat terus bergerak untuk mulai kritis terhadap modernitas yang secara paksa dicangkokkan. Negara Dunia Selatan harus berani menolak impor model-model teknologi kadaluarsa yang sudah tidak laku di Negara Dunia Utara. Kita tidak perlu secara linear mengikuti perkembangan peradaban di Utara, yang harus terlebih dahulu banyak kehilangan sistem sosial-budaya dan sosial-ekologis karena industrialisasi skala raksasa dan komodifikasi seluruh aspek kehidupan, sebelum mulai kembali hidup bersama alam dengan sistem rekayasa energi dan teknologi terbarukan dan kembali bersandar kepada kekuatan komunitas kecil. Ada saatnya kita bersama-sama berjalan merayap, tapi suatu saat nanti kita harus melompat menuju peradaban yang sangat maju. Siapa lagi yang punya plasma nuftah, sinar matahari dan air sebanyak yang ada di alam Nusantara ini?

Yang perlu disadari, kerja profesional kita adalah juga persoalan politik (lihat tulisan saya bersama-sama kawan-kawan Arsitek Lintas Batas http://blog.asf.or.id/2016/12/etika-profesi-dan-sikap-politik/). Sambil kita bersungguh-sungguh memperdalam sains dan teknologi dan bersetia pada dialektikanya, reformasi lingkungan penelitian adalah keharusan. Upaya ini akan menyerap energi dan memakan waktu. Kita sedang bergerak ke sana. Namun apa yang bisa kita capai sekarang?

Solidaritas yang perlu dilakukan saat ini bukan hanya turun aksi ke jalan dan mengumpulan donasi bagi pergerakan sosial demokratik. Tentu ini sangat perlu diupayakan, namun masih banyak potensi komunitas peneliti Indonesia di dalam dan di luar negeri yang perlu diaktualkan. Secara bersama-sama dan/atau bergantian kita harus bergerak bersama lembaga-lembaga yang tengah berjuang melalui proses-proses hukum untuk mencari keadilan bagi masyarakat yang digilas oleh roda ’kemajuan’ dan ’modernitas’ gadungan. Kita dapat membantu mengumpulkan bukti-bukti akademis untuk persidangan. Kita dapat menerjemahkan teks-teks dari berbagai bahasa ke dalam bahasa Ibu jika diperlukan, dan sebaliknya menerjemahkan bahan-bahan kampanye untuk solidaritas masyarakat international. Dipikul sendiri tugas-tugas ini terlihat berat, dipikul bersama tidak hanya kita saling meringankan beban tetapi juga menjalin persahabatan.

Salam solidaritas,

Prathiwi W. Putri

Saat ini adalah peneliti post-doctoral di Department of Food and Resource Economics, University of Copenhagen untuk program riset ‘Rule and Rupture’.  Mendapat gelar Doctor of Engineering Science dari KU Leuven pada 2014.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s